Kamis, 22 Oktober 2009

cara mengatasi kenaikan sembako

Mengatasi Kenaikan Harga Pangan
Posted on February 23, 2008 by epsdin

Beberapa negara besar seperti Cina dan India dalam sepuluh tahun terakhir ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang begitu menakjubkan. Seiring dengan kenaikan pendapatan di kedua negara yang total penduduknya sekitar sepertiga penduduk bumi itu, permintaan akan energi dan pangan dunia menjadi terdongkrak dengan sangat drastis. Lahan untuk pangan di muka bumi relatif tidak beranjak, dan karenanya harga melesat naik.

Tingginya harga bahan pangan di pasar dunia berimbas pada semakin buruknya kondisi perekonomian nasional indonesia. Kondisi ini diperburuk dengan adanya bencana banjir yang terjadi di beberapa daerah yang mengakibatkan terhambatnya panen dan proses produksi bahan pangan dalam negeri. Hal ini jika lama dibiarkan akan menimbulkan ketidakcukupan bahan produksi hingga ketidakstabilan ekonomi pun akan terjadi kembali.

Kenaikan harga pangan sangat memberatkan sebagian besar masyarakat, terutama bagi kalangan menengah ke bawah. Akibatnya program pengentasan kemiskinan pun akan semakin berat dan upaya masyarakat menuai kesejahteraan hidup semakin terpuruk.

Harga pangan yang semakin melonjak menyebabkan meningkatkan inflasi, karena bahan pangan mempunyai bobot tertinggi dalam perhitungan inflasi. Inflasi Januari 2008 lebih tinggi dibandingkan Januari tahun-tahun sebelumnya. Data BPS menunjukkan, sumbangan bahan pangan terhadap inflasi mencapai 0,74 persen (www.sinarharapan.co.id ) Dari 0,74 persen sumbangan pangan terhadap inflasi, sebesar 0,27 persen disumbang dari beras. Khusus untuk kasus beras pemerintah perlu segera membuat antisipasi yang lebih baik. Sebab bila tidak maka harga beras akan meningkat cepat. Produksi beras saat ini akan terjadi penurunan akibat banyaknya lahan pertanian yang mengalami kebanjiran. Dan diperkirakan pada 2009-2010 Indonesia akan krisi beras

Perlu diketahui bahwa krisis pangan di Indonesia, yang dapat mengancam perekonomian, adalah gejala dunia, bukan khas Indonesia. Dengan jumlah penduduk 6,3 miliar jiwa, dunia kini dan mendatang akan menghadapi masalah ketahanan pangan. Kebutuhan pangan konsumsi bangsa ini sekitar 60-70 persen berasal dari Impor (www.beritasore.com ), untuk itu pemerintah perlu mewaspadai hal ini.

Oleh karena itu, kenaikan harga pangan ini perlu mendapat perhatian dan fokus utama dalam agenda kerja pemerintah. Karena ini sangat berhubungan dengan hajat hidup orang banyak dan sangat urgen bagi kelangsungan kehidupan rakyat kecil. Untuk mengatasi kenaikan harga pangan, ada beberapa hal tindakan yang dapat dilakukan, diantaranya melalui upaya jangka pendek dan jangka menengah.

Salah satu upaya mengatasi kenaikan harga pangan dalam jangka pendek adalah melalui upaya pengaktifan peran Bulog. Hal ini sangat penting untuk menstabilkan harga bahan pangan dan melindungi kepentingan petani sebagai produsen yang rentan terhadap fluktuasi harga. Impor bahan pangan pada umumnya dapat menstabilkan harga dalam jangka pendek namun akibatnya menekan petani produsen. Jika saja Bulog dapat berperan dalam menstabilkan harga dan mengurangi penyalahgunaan untuk kepentingan tertentu, maka kehadirannya menjadi penting.

Selain itu pemerintah hendaknya melakukan kerja sama dengan sejumlah asosiasi produsen makanan dan minuman (termasuk juga dengan Bulog) dalam hal pengendalian harga beras. Hal ini dapat dilakuakan dengan melaksanakan operasi pasar dan operasi stabilisasi harga (OSH) di beberapa kelurahan untuk menekan gejolak harga. yang melibatkan para pedagang yang bersangkutan.

Upaya mengandalkan kebijakan perdagangan untuk menstabilkan harga bahan pangan bukanlah kebijakan strategis, tetapi bersifat temporer. Kebijakan strategis dalam jangka menengah adalah meningkatkan produksi bahan pangan terutama beras, jagung, dan kedelai. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus lebih fokus dalam meningkatkan produksi pangan. Program ekstensifikasi, maupun intensifikasi melalui penyediaan bibit unggul, kredit, dan penyuluhan juga sangat penting untuk ditingkatkan. Tentu untuk meningkatkan produksi domestik tak bisa dilakukan dalam sekejap. Berbagai tahapan perlu dikaji dan dilakuakn. Bibit unggul harus disediakan, lahan pertanian di luar Jawa harus dibuka lebih luas, dan petani di Jawa terpakasa harus ditransmigrasikan. Pembangunan sektor pertanian pun sebaiknya dilakukan melalui pendekatan agrobisnis agar produksi pertanian mempunya value edit dan nilai jual yang tinggi.

Selain itu, penciptaan lapangan kerja bidang perpanganan juga merupakan cara yang tepat untuk mengatasi dampak kenaikan harga pangan. Pasalnya, pemberian subsidi pangan, hal itu juga tidak dimungkinkan karena subsidi pemerintah terbatas. Dengan adanya penciptaan lapangan kerja baru diharapkan akan mendorong sejumlah institusi dan masyarakat untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Tentu saja peningkatan produksi tidak dapat mengandalkan kegiatan produksi petani berlahan kecil. Dan hal ini harus disertai dengan beberapa kajian mendalam terutama mengenai masalah teknis dan managerialnya.

Dorongan bagi perusahaan besar untuk aktif dalam kegiatan produksi pangan perlu juga diberikan. Kedaulatan pangan harus menjadi program prioritas pemerintah. Ketergantungan terhadap impor pangan harus secepatnya dikurangi atau membebaskan impor dan pengurangi PPN bahan pangan. Kalau saat ini kita masih bisa melakukan impor, hal itu mungkin akan sulit untuk dilakukan dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang. Semoga dengan melakukan beberapa upaya di atas dan dengan kerja sama berbagai pihak, kita bisa mengatasi kenaikan pangan hingga perekonomian nasional pulih kembali. (epsdin, dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar